Perusahaan Pengolah Ikan Hengkang
KOMPAS/A PONCO ANGGORO
Aktivitas jual beli ikan di Pasar Langgur, Kabupaten Maluku Tenggara, Maluku, Minggu (4/12). Potensi perikanan di Maluku Tenggara begitu melimpah, tetapi belum dimanfaatkan secara maksimal sehingga nelayan kerap membuang hasil tangkapannya akibat terbatasnya pembeli.
LANGGUR, KOMPAS - Ikan tangkapan nelayan di sejumlah desa di Kabupaten Maluku Tenggara, Maluku, kerap terpaksa dibuang akibat terbatasnya pembeli. Kalaupun ikan bisa dijual, pedagang membelinya dengan harga murah. Kondisi ini sering dialami nelayan saat musim panen ikan.
Hal tersebut dikeluhkan nelayan Desa Sathean dan Dusun Selayar, Desa Namar, Kecamatan Kei Kecil, Maluku Tenggara, yang dihubungi pada Minggu (4/12). Sathean dan Selayar adalah dua perkampungan nelayan dengan hasil tangkapan terbanyak di Maluku Tenggara.
Sabarudin Yamlean (25), salah satu nelayan Desa Sathean, mengatakan, musim panen ikan bagi nelayan Sathean berlangsung saat musim barat (Desember sampai Mei). Saat itu, nelayan bisa menangkap ikan hingga 50 ton setiap harinya. Ikan yang tertangkap kebanyakan adalah ikan tongkol, momar, dan teri.
Saking banyaknya ikan yang ditangkap, sering kali tidak semua bisa terjual. Pedagang di pasar tradisional tidak bisa lagi menampung ikan tangkapan nelayan, begitu pula dua perusahaan pengolahan ikan di Maluku Tenggara.
”Akhirnya ikan sering dibuang lagi ke laut. Jumlah ikan yang dibuang itu bisa sampai lima ton. Makanya, saat musim panen ikan, desa kami jadi bau busuk ikan,” tuturnya.
Kalaupun bisa dijual, pembeli membelinya dengan harga murah. Apabila dalam kondisi normal harga ikan sekitar Rp 3.000 per kilogram, saat musim panen ikan harga bisa turun separuhnya.
Kepala Dusun Selayar Samsudin Takerubun mengatakan, hal serupa kerap terjadi di wilayahnya saat musim panen ikan atau saat musim timur (Mei sampai Desember). Akibatnya, nelayan sering merugi.
Hengkang
Pembantu Direktur I Politeknik Perikanan Negeri Tual Celcius Waran mengatakan, kondisi yang dialami nelayan itu sudah berlangsung lama, tidak hanya di Sathean dan Selayar, tetapi juga di banyak desa nelayan di Maluku Tenggara.
Data dari Badan Pusat Statistik Maluku Tenggara menyebutkan, produksi ikan anjlok drastis sejak tahun 2007. Sebelum tahun 2007, produksi ikan selalu di atas 120.000 ton. Namun, setelah itu, tidak pernah bisa lebih dari 100.000 ton, bahkan tahun 2010 produksi ikan hanya 39.840 ton.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Maluku Tenggara Babaranda Lily Letelay mengatakan, sejak penertiban kapal-kapal ikan asing oleh kepolisian pada tahun 2007, kapal ikan asing tidak lagi sandar di Maluku Tenggara. Mereka memilih sandar di Ambon meski jarak Ambon ke kawasan penangkapan ikan di Laut Banda dan Arafura lebih jauh dibandingkan dari Maluku Tenggara.
Kondisi ini berimbas pada hengkangnya perusahaan-perusahaan pengolahan ikan dan kapal-kapal pengumpul ikan dari Maluku Tenggara. Padahal, peran mereka sangat penting dalam menyerap hasil tangkapan nelayan lokal.
Hingga kini, hanya ada dua perusahaan pengolahan ikan dan dua kapal pengumpul ikan yang beroperasi di Maluku Tenggara.
Sementara itu di Cilacap, Jawa Tengah, kondisi infrastruktur nelayan tradisional selama puluhan tahun tidak juga membaik. Keterbatasan alat tangkap, berkurangnya pasokan bahan bakar minyak, dan belum adanya dermaga yang representatif menyebabkan produktivitas perikanan tangkap dari tahun ke tahun merosot.
Data Dinas Kelautan Perikanan dan Pengelola Sumber Daya Kawasan Segara Anakan Cilacap menyebutkan, nilai produksi perikanan tangkap di Cilacap pada 2010 hanya Rp 20 miliar, padahal pada 1975-1976 mencapai Rp 75 miliar per tahun. (APA/GRE)
Sumber: http://cetak.kompas.com/read/2011/12/05/03381085/nelayan.terpaksa.membuang.ikan